Kamis, 19 Juli 2018

TOR Diskusi “Ngopi Ngerumpi" edisi ke-35 ILEW & KOMNAS RIM

TOR Diskusi “Ngopi Ngerumpi" edisi ke-35 ILEW & KOMNAS RIM
Tema : "Mengurai Tantangan Ketahanan Nasional Menjelang Pemilu 2019"


Narasumber :
1. Rizal Darma Putra,Pengamat Militer
2. Sugeng Teguh Santoso, Advokat/Sekjen Peradi
3. Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dari Global Future Institute

Moderator : Desyana Zainuddin, Aktivis Perempuan

Hari, tanggal: Selasa, 17 Juli 2018, jam 15 - selesai
Lokasi: Jl. Veteran 1 no. 33 , Gambir. Belakang mesjid Istiqlal, sederet dengan es krim Ragusa.

Esensi dari persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia ialah ketahanan nasional. Ketahanan nasional adalah: kemampuan sebuah bangsa mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, serta gangguan yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri, yang secara langsung maupun tidak langsung membahayakan integritas, keamanan, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara, serta perjuangan mengejar tujuan tujuan nasional.

Ketahanan Nasional berbeda dengan Pertahanan Nasional. Ketahanan nasional meliputi berbagai hal yaitu : 1.geografi 2. demografi 3.sumber kekayaan alam 4. ideologi 5.politik 6. ekonomi 7.sosial -budaya 8. pertahanan -keamanan.

Foto bersama setelah diskusi

Secara umum, ancaman ketahanan nasional di bidang politik adalah kegiatan - kegiatan yang dapat mengganggu dan mengubah kebijakan, kekuasaan dan jalannya pemerintahan secara konsepsional, terencana dan terarah, baik melalui tindakan kriminal maupun tindakan politik. Tantangan dalam menghadapi pemilu 2019 adalah melakukan usaha-usaha yang bertujuan untuk memilih pemimpin eksekutif dan legislatif Indonesia melalui pemilu yang berintegritas dan bermartabat.
Diskusi Ngopi Ngerumpi edisi ke 35 ini, akan fokus pada tantangan dan ancaman yang mungkin muncul dan mengganggu pemilu keberlangsungan 2019. Ada tiga poin ketahanan nasional yang akan didiskusikan yaitu : ketahanan nasional dilihat dari pertahanan militer, dari geopolitik dan hubungan internasional serta dari segi hukum dan perundang-undangan.
Pengalaman pilpres 2014 dan pemilukada DKI 2017 menunjukkan terjadinya pembelahan opini masyarakat yang cukup tajam hingga cukup mengkhawatirkan banyak pihak. Pembelahan persepsi dalam masyatakat di dunia maya dikhawatirkan akan merembet menjadi pertarungan fisik di lapangan antar pendukung. Tetapi syukurlah, hal-hal yang dikhawatirkan tersebut tidak terjadi. Pilkada serentak 2017 diikuti (101 daerah) dan pilkada serentak 2018 diikuti (171 daerah) berlangsung lancar serta aman, kini saatnya Indonesia mempersiapkan diri untuk pemilu serentak 2019.
Beberapa ancaman ketahanan nasional di kepemiluan yang diidentifikasi antara lain politik identitas, isu toleransi dan radikalisme, penyebaran berita hoax di media sosial, penggiringan dan pembentukan opini masyarakat oleh elite -elite parpol atas isu-isu tertentu, pembatasan partisipasi rakyat dan caleg dalam pemilu seperti pembatasan pemberian hak suara, pembatasan akses kepemiluan dll, dan lebih jauh lagi adalah intervensi atau keterlibatan negara lain dalam pemilu 2019. Terkait poin terakhir, militer memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan nasional sekaligus pertahanan nasional. Prof.Dr.Salim Said mengutarakan bahwa : 1.anggota militer harus sejahtera 2.militer harus well-equipped (cukup dipersenjatai) 3. organisasi militer harus baik juga professional. Memahami geopolitik Indonesia juga sangat penting bagi mereka yang akan maju sebagai calon pemimpin Indonesia, juga bagi para pemilih, mengingat Indonesia adalah bagian dari masyarakat dunia.

TOR Diskusi “Ngopi Ngerumpi" edisi ke-35 ILEW & KOMNAS RIM

TOR Diskusi “Ngopi Ngerumpi" edisi ke-35 ILEW & KOMNAS RIM Tema : "Mengurai Tantangan Ketahanan Nasional Menjelang Pemil...